Dalam
pertemuan pertama di mata kuliah Manajemen Public Relations kali ini
membahas tentang apa definisi dari Manajemen Public Relations itu
sendiri. Berikut adalah pembahasan menurut bahasa dan pemahaman saya
sendiri.
Istilah
Manajemen mempunyai arti memimpin, mengatur dan menangani berbagai
hal yang didasari tujuan yang ingin dicapai. Sedangkan Public
Relations pada hakekatnya merupakan metode komunikasi yang meliputi
berbagai teknik komunikasi. Dalam kegiatannya, terdapat suatu usaha
untuk mewujudkan hubungan yang harmonis antara suatu badan atau
perusahaan dengan publiknya. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa
Manajemen Public Relations adalah proses perencanaan dengan tujuan
untuk memimpin, mengatur dan menangani perorganisasian dan pengawasan
dalam suatu lembaga serta mempengaruhi pendapat menjadi karakter yang
baik dalam pandangan setiap khalayak.
Sebenarnya
dalam definisi antara PR dan Humas mempunyai perbedaan. Salah satunya
adalah Humas sendiri hanya menjalankan sebagian kecil tugas dari
seorang PR, Artinya Humas adalah unsur atau bagian dari PR itu
sendiri. Selain itu, Humas hanya berhubungan dengan masyarakat saja,
Artinya ruang lingkup yang dihadapi cenderung kecil. Sedangkan PR
sendiri mempunyai ruang lingkup yang lebih luas serta yang dihadapi
tidak hanya masyarakat, tetapi juga menyangkut pemerintahan, media,
perusahaan-perusahaan yang terkait, dan lain sebagainya.
Selain
itu, PR menjadi faktor penting dalam perusahaan atau kelembagaan
dikarenakan PR itu sendiri merupakan profesi yang profesional dalam
bidangnya untuk mempengaruhi pendapat khalayak tentang karakter dari
perusahaan atau kelembagaan yang bersangkutan dalam pandangan yang
positif. Gambaran profesi dari PR itu sendiri adalah dengan cara
melaksanakan program aksi serta mengevaluasi dan mengidentifikasi
kepentingan khalayak yang berhubungan dengan perusahaan yang terkait
dalam rangka mendapatkan feedback yang positif dari khalayak itu
sendiri.
Kesimpulannya
adalah Manajemen Public Relations adalah sebuah profesi yang sangat
profesional dalam memimpin, mengatur dan menangani pandangan khalayak
mengenai perusahaan yang terkait dengan tujuan untuk menimbulkan
pandangan yang positif dan mempererat ikatan dengan perusahaan atau
kelembagaan yang lain.
4 Model Public Relations Menurut Grunig dan Hunt
Dari
setiap manfaat serta fungsinya, Grunig
dan Hunt membedakan beberapa model PR menjadi 4, yaitu One Way
Communication Symmetrical,
One Way Communication Asymmetrical,
Two Way Communication Symmetrical,
dan Two Way Communication Asymmetrical.
1.
One
Way Communication Symmetrical
Model
ini menggunakan persuasi dan manipulasi dalam mempengaruhi pandangan
khalayak dengan tujuan supaya khalayak berperilaku sesuai dengan
keinginan perusahaan atau kelembagaan yang terkait. Contohnya seperti
penyakit misteri di Magelang. Dalam kasus tersebut, pemerintah memang
menanggapi penyakit misterius yang menelan banyak korban di daerah
Magelang. Tetapi, instansi terlalu cepat menyimpulkan bahwa penyebab
dari penyakit misterius itu adalah makanan tempe gembos. Dilain
pihak, korban-korban baik yang selamat maupun masih dalam proses
perawatan membantah dugaan tersebut. Dilihat
dari tindakan pemerintah, tujuan yang di ambil adalah untuk
meningkatkan hubungan antara instansi dengan masyarakat agar
pemerintah bisa menangani penyakit tersebut. Tetapi, pendapat dari
masyarakat hingga kini masih belum ditanggapi sehingga membuat
komunikasi hanya terjadi satu arah.
2.
One Way Communication Asymmetrical
Model
ini kebalikan dari model sebelumnya, yaitu tidak berusaha untuk
mengubah pandangan masyarakat tentang perusahaan atau kelembagaannya
sehingga khalayak hanya mempunyai persepsi masing-masing ataupun
mengira-ngira. Contohnya adalah kasus Adam Air. Saat terjadi
kecelakaan yang menjadi viral di kalangan masyarakat luas Indonesia
dengan menghilangnya pesawat dalam kejadian tersebut. Pihak Adam Air
seakan tidak merasa bertanggung jawab dan melemparkan kesalahaannya
ke banyak pihak serta dibarengi dengan tutupnya seluruh kantor pusat.
Akibatnya, masyarakat hanya bisa berpersepsi ataupun menebak-nebak
apa yang terjadi di dalam manajemen Adam Air sehingga hanya terjadi
komunikasi satu arah. Selain itu, pihak Adam Air juga tidak berusaha
untuk meningkatkan hubungannya dengan masyarakat hingga menimbulkan
pandangan yang buruk di mata khalayak luas.
3.
Two Way Communication Symmetrical
Dalam
model ini, PR menggunakan komunikasi dua arah untuk bernegosiasi
dengan masyarakat, menyelesaikan konflik dan mempererat hubungan
dengan cara saling menghormati antara perusahaan atau kelembagaan
dengan masyarakat. Contohnya seperti Perusahaan Lifeboy. Instansi
tersebut melakukan komunikasi dua arah yang efektif dengan tidak
menutup diri atas pertanyaan masyarakat tentang semua hal yang
berhubungan dengan perusahaannya serta mereka melakukan riset bukan
hanya untuk kepentingan perusahaan dalam meningkatkan profit
pembelian produk, tetapi juga untuk kepentingan masyarakat dengan
mengadakan program aksi cuci tangan yang bertujuan untuk meningkatkan
kesehatan masyarakat Indonesia.
4.
Two Way Communication Asymmetrical
Model
ini menggunakan persuasi dan manipulasi untuk mempengaruhi pandangan
khalayak supaya berperilaku sesuai dengan tujuan perusahaan. Berbeda
dengan model sebelumnya, model ini tidak mengambil tindakan dari
sudut pandang masyarakat tetapi hanya untuk keperluan perusahaan itu
sendiri. Contohnya adalah pergantian minyak tanah ke gas yang
diasumsikan oleh pemerintah. Dalam program ini, pemerintah melakukan
komunikasi dua arah dan tidak menutup diri atas pertanyaan masyarakat
serta komplainnya terhadap masalah penggunaan kompor gas yang memang
sebagian besar masyarakat masih sangat asing dalam penggunaanya
dengan cara mengirimkan beberapa kelompok dari instansi untuk
mendatangi tiap-tiap rumah dan memberikan sosialisasi program
tersebut. Tetapi, pemerintah tidak memandang kepentingan masyarakat
dan hanya memandang dari kepentingan pribadi instansi yang memang
bertujuan untuk mencegah habisnya minyak di Indonesia dan
meningkatkan penjualan produksi gas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar